Ngeri! Trump Ancam Bom Jembatan-Pembangkit Jika Iran Tembaki Kapal di Selat Hormuz -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ngeri! Trump Ancam Bom Jembatan-Pembangkit Jika Iran Tembaki Kapal di Selat Hormuz

Kamis, 23 Juli 2026 | Juli 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-23T01:58:54Z

Ngeri! Trump Ancam Bom Jembatan-Pembangkit Jika Iran Tembaki Kapal di Selat Hormuz

WANHEARTNEWS.COM
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran setiap negara tersebut menembaki kapal di Selat Hormuz. Target serangan itu, menurut Trump, termasuk infrastruktur yang berada di ibu kota Iran, Teheran.

Ancaman yang disampaikan melalui unggahan di Truth Social itu semakin meningkatkan ketegangan antara AS dan Iran. Situasi kedua negara memang sudah memanas setelah gencatan senjata runtuh dan tiga personel militer AS tewas.

"Dengan ini saya nyatakan, setiap kali Republik Islam Iran menembaki kapal di Selat Hormuz, baik menggunakan rudal, roket, drone, maupun senjata lainnya, Amerika Serikat akan mengebom dan menghancurkan SATU JEMBATAN ATAU PEMBANGKIT LISTRIK," tulis Trump, dikutip dari CNBC, Kamis (23/7/2026).

Iran merespons dengan mengancam akan menyerang infrastruktur dan fasilitas energi yang berkaitan dengan kepentingan AS di kawasan jika benar-benar melaksanakan ancaman tersebut.


"Jika Amerika menyerang satu jembatan atau pembangkit listrik di Iran, maka Iran juga akan menyerang infrastruktur dan jembatan di kawasan, termasuk fasilitas energi yang memiliki kepentingan Amerika Serikat," kata sumber militer Iran yang tidak disebutkan namanya kepada kantor berita pemerintah Iran, Tasnim.

Sumber tersebut juga menegaskan Iran tetap bertekad mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Menurutnya, kapal hanya akan diizinkan melintas dengan aman apabila pelayarannya dikoordinasikan dan mengikuti pengaturan yang ditetapkan Iran.

Sebelumnya, Trump juga pernah mengancam akan menyerang pembangkit listrik, fasilitas air, dan infrastruktur penting lainnya di Iran. Sejumlah pakar memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas sipil semacam itu berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuduh Iran tidak serius mencapai kesepakatan, meski kembali menegaskan AS tetap berkomitmen menempuh jalur diplomasi di Timur Tengah.

Pernyataan Rubio muncul ketika Komando Pusat AS (CENTCOM) melancarkan serangan terhadap target-target Iran untuk malam ke-11 berturut-turut sebagai bagian dari upaya mengamankan Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak yang menjadi salah satu sumber pengaruh utama Iran dalam konflik tersebut. CENTCOM menyatakan telah menyerang pusat operasi militer, fasilitas penyimpanan drone, dan infrastruktur logistik militer Iran.


Dalam pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Filipina, Rubio mengatakan salah satu hambatan utama dalam negosiasi adalah tuntutan Iran untuk menguasai lalu lintas di Selat Hormuz. Menurutnya, hak tersebut tidak dimiliki Iran berdasarkan hukum internasional.

"Jika kita menciptakan preseden bahwa sebuah negara dapat menguasai jalur pelayaran internasional, mengenakan tarif, dan menghancurkan kapal yang tidak membayar, maka kita telah menciptakan preseden yang sangat berbahaya. Hal itu bisa terulang di kawasan lain di dunia, termasuk di wilayah ini," kata Rubio.

Ia juga memberi isyarat mengenai China dengan mengatakan bahwa kawasan Asia merupakan wilayah yang paling memahami pentingnya kebebasan navigasi di jalur pelayaran internasional. Rubio menegaskan AS masih membuka peluang untuk mengakhiri konflik melalui jalur diplomasi.

"Amerika Serikat ingin mencapai penyelesaian diplomatik. Kami ingin mencapai kesepakatan dengan Iran, jika memungkinkan, di mana mereka menyatakan tidak lagi mendukung terorisme, tidak mengejar senjata nuklir, maupun kemampuan yang diperlukan untuk membuat senjata nuklir," tutupnya.


×
Berita Terbaru Update
close