Bahaya Kaum Tulang Lunak (LGBT/Liwath) Dalam Perspektif Sains -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bahaya Kaum Tulang Lunak (LGBT/Liwath) Dalam Perspektif Sains

Selasa, 17 Mei 2022 | Mei 17, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-05-17T12:50:37Z
Bahaya Kaum Tulang Lunak (LGBT/Liwath) Dalam Perspektif Sains

By @KrikilKOTD*

Maraknya bahasan tentang kaum pel*ngi, melintas di linimasa dua kisah dengan ending yang sama-sama tragis. Terinfeksi HIV di usia muda, qadarullaah yang satu baru saja meninggal dunia.

Satu orang anak seusia SMP yang berubah orientasi s*x dikarenakan menjadi korban USTADZ dan seniornya di pesantren, satu lagi korban DOSEN kenalannya.

Kedua orang tuanya tentu tidak ada yang menyangka, dari kecil normal saja layaknya anak lelaki pada umumnya, bergaulnya pun dengan orang yang nampak baik, tapi ternyata predator. Berubah orientasi berawal sebagai korban yang awalnya merasa jijik dan marah diperlakukan demikian.

Kaum sesama jenis ini dalam bahasa Arab diistilahkan dengan "liwath" sebagaimana kaum Nabi Luth, menular dan bisa menjangkiti lelaki manapun meski awalnya hetero (normal).

Berangkat dari keprihatinan maraknya fenomena demikian, maka kiranya penting untuk melakukan s*x edukasi kepada para anak lelaki. Bahasan yang mungkin dipandang tabu, tapi dalam hal ini 's*x is science'.

Paling tdk mereka harus tau, risiko dan apa yang akan terjadi jika semisal -Na'udzubillah- menjadi korban, sehingga tidak berlanjut ketagihan sebagaimana yg dikisahkan dlm screenshot di bawah ini.

Apalagi ketika era sekarang beramai-ramai banyak pihak mendukung seolah liwath bukan praktek menyimpang dan harus dimaklumi.

Beberapa hal yang perlu diketahui:

(1) Liwath bisa MENULAR dan bahkan bisa menyebabkan ketagihan pada lelaki yang awalnya hetero

Lelaki secara biologis memiliki G-spot atau biasa dikenal P-spot yg berada pada Prostate Gland, letaknya di dalam tubuh dan pangkal alat vital dan hanya bisa distimulus via anus.

Daerah ini memiliki sensitifitas berkali lipat di banding alat vital bagian luar. Jika orientasi yang dikejar berpusat pada syahwat, konon siapapun lelaki yang pernah merasakan stimulus pada prostate gland, tidak akan tertarik lagi berhubungan secara hetero (dengan lain jenis).

Namun, semua syahwat yang membawa ke Neraka memang nampak 'melenakan', tapi berkonsekuensi merusak di masa mendatang.

(2) Hubungan liwath melalui anal (rectum) memiliki risiko 70% lebih besar terinfeksi HIV


Menurut penelitian hubungan dengan cara ini adalah cara utama kaum liwath tertular HIV:

Secara Biology, struktur rektum berbeda dengan alat vital perempuan yang dilapisi dengan beberapa lapisan sel epitel yang bertindak sebagai penghalang.

Rektum hanya memiliki satu lapisan sel yang cenderung rapuh dan rentan terhadap kerusakan sehingga memungkinkan virus menembus lapisan tipis ini dan cepat masuk ke tubuh.


Jaringan rektal juga kaya akan sel imun yang disebut sel T CD4. Sel ini adalah sel yang menjadi target HIV untuk menginfeksi sel lalu bereplikasi tak terkendali.

Jadi HIV dapat menyebabkan infeksi dengan cepat ketika masuk melalui rectum. 

Penelitian in-vivo menggunakan model hewan menunjukkan dalam waktu satu jam setelah paparan di rectum, HIV dapat menembus pertahanan kekebalan garis depan tubuh. 

Dalam waktu 24 jam, virus dapat menyebar ke seluruh tubuh.

Pasangan liwath biasa terkategori berdasarkan posisi mereka dalam berhubungan: bottom (bot), top, dan versatile (bisa keduanya). Bot bisa 12x berisiko terinfeksi HIV daripada pasangan yang murni top.

Selain HIV, pasangan liwath juga rentan terkena infeksi menular seksual (IMS) yang juga dapat meningkatkan risiko terinfeksi HIV. Beberapa infeksi, seperti sifilis, meningkatkan risiko HIV sebanyak 500%.

Selain itu, di kisah ini padahal pelaku mengaku selalu memakai pengaman (kond*m), namun tetap tertular HIV. 

Penelitian terkuat meta-analisis yang merekrut total 10.676 pasangan dengan satu pasangan HIV-positif dan satu pasangan HIV-negatif di berbagai negara antara 1987 dan 2013 menemukan pengguna kond*m yang konsisten memiliki 71 hingga 77% risiko lebih kecil (tidak 100% melindungi) untuk tertular HIV  dengan pasangan h*tero yang sama.

Padahal ini pasangan lain jenis dan tidak berganti-ganti pasangan, tetap masih ada risiko tertular. 

Tidak Ada Gen Gay: liwath bukan karena genetik!

Penelitian paling reliable meta analysis dari 2 dataset terbesar untuk riset genetik saat ini menemukan lima basa nukleotida (SNP) pada genom manusia yang terkait dengan perilaku seksual sesama jenis, tetapi tidak satupun yang bisa memprediksi orientasi seksualitas seseorang.

Artinya, praktik liwath tidak ada hubungan dengan kecenderungan orientasi bawaan lahir.

Catatan menariknya, tidak ada gen tunggal yg memiliki efek besar pada perilaku seksual.

Bahkan kelima SNP yg ditemukan jika digabung, hanya mampu menjelaskan varian <1% efeknya terhadap liwath. 

Artinya jika dikaitkan dengan genetikpun, praktik liwath ini tetap disebabkan krn faktor lingkungan.

Yang menarik, kesemua SNP yang ditemukan berkorelasi dengan kaum liwath juga berkorelasi dengan beberapa gangguan mood dan kesehatan mental (depresi mayor). 

Bahkan Bapak komputer sains yang menciptakan komputer modern pertama adalah kaum pelangi yang meninggal karena bunuh diri.

Jadi telah teranglah banyak kerusakan akibat praktik liwath, bahkan bagi mereka yang memaksa mencari pembenaran genetik dari sisi sains.

Di saat kampanye kaum pelangi sangat marak dan terang-terangan, perlu untuk mengimbangi kampanye bahaya dan ancaman berat berdasar agama dan sains. 

Sebagai contoh, jika selama ini kita terdoktrin bahwa tikus itu binatang menjijikkan untuk dimakan...

Jika suatu saat bakso langganan terkena razia menggunakan daging tikus, otomatis akan merasa jijik dan ingin muntah saat itu juga, mau seenak apapun rasanya. 

Beda dengan di Thailand ketika penduduknya terbiasa makan daging tikus karena lingkungan tidak memandang jijik.

*Sumber: Utas @KrikilKOTD 👇
×
Berita Terbaru Update
close