Pelajaran Dari Terbantainya Bali United Untuk Sepakbola Indonesia -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pelajaran Dari Terbantainya Bali United Untuk Sepakbola Indonesia

Rabu, 29 Juni 2022 | Juni 29, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-06-29T11:50:21Z
Pelajaran Dari Terbantainya Bali United Untuk Sepakbola Indonesia

Sebuah kejutan terjadi di Stadion Dipta. Bali United (juara Liga 1 Indonesia) dipecundangi oleh klub asal Kamboja, Visakha FC dengan skor telak 5 - 2. 

Sebuah hasil yang mengejutkan tentunya. Karena Bali United tentu lebih diunggulkan dalam pertandingan ini. Namun nyatanya mereka dibuat tidak berkutik dihadapan pendukungnya sendiri oleh klub yang saat ini ada di peringkat 4 klasemen sementara. 

Kebetulan atau memang Bali United-nya yang sedang bapuk?

Sebenarnya ini bukanlah kebetulan jika kita lihat bagaimana federasi mereka membangun dan memperbaiki kualitas Liga Kamboja. 

Liga profesional mereka baru berjalan sejak 2005 dan di dukung sponsor utama perusahaan telekomunikasi Metfone. 

Standar profesionalisme meningkat, klub klub mendapatkan sponsor dari perusahaan perusahaan ternama sehingga keuangan klub stabil dan mampu mendatangkan pemain berkualitas meski tanpa nama besar

Cikal bakal kebangkitan mereka adalah terbentuknya perusahaan khusus untuk menangani kompetisi,yakni Cambodian Football League (CFLC)Liga Kamboja tidak lagi dikelola oleh federasi sepakbola Kamboja (FFC). 

CFLC ini kalau di Indonesia seperti PT LIB, namun bedanya CFLC ini diisi oleh orang orang yang berpengalaman dalam bidang sepakbola. 

CEO CFLC adalah orang Jepang, Satoshi Saito. Pengalamanya sangat luas dibidang sepakbola. Pernah bekerja sebagai manajer pemasaran Barcelona FC, Direktur Misi Khusus Federasi Sepak Bola Jepang (JFA), Konsultan pemasaran FIFA. Benar-benar orang yang paham seluk beluk sepakbola.
Satoshi Saito membuat gebrakan besar. Memangkas jumlah klub peserta Liga Kamboja dan harus memenuhi kriteria seperti status hukum, solvabilitas, infrastruktur, keuangan dan kualitas stadion. Satoshi memberikan standar penilaian minimal 70 (dan tidak bisa di nego seperti di liga kita). Klub juga diwajibkan memainkan pemain U-23.

Sebelumnya Jepang juga mengadopsi kompetisi Indonesia era 1990-an. Kawabuci Saburo bekerja keras untuk membangun J-League dan sepakbola Jepang. 

Hasilnya, sang guru (Indonesia) malah ditinggal jauh oleh muridnya (Jepang). 

Jadi jangan kaget jika 10 tahun kedepan klub klub dan timnas Indonesia akan ditinggalkan jauh oleh Kamboja. 

Jika federasi, klub, fans dan otoritas sepakbola Indonesia tidak mau berbenah, maka kita akan semakin ketinggalan. 

Standar Liga Indonesia harus ditingkatkan lagi dengan aturan-aturan yang lebih tegas dan ketat

#SalamNgarit

(Fp BaliSoccer)

×
Berita Terbaru Update
close