Refleksi atas Istana Alhambra, Bukti Jejak Kejayaan Islam di Spanyol -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Refleksi atas Istana Alhambra, Bukti Jejak Kejayaan Islam di Spanyol

Minggu, 13 November 2022 | November 13, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-11-13T01:29:11Z

Istana Alhambra di Granada, Spanyol. Foto: Shutter Stock

zoom-in-whitePerbesar
Istana Alhambra di Granada, Spanyol. Foto: Shutter Stoc
Mungkin kota Alhambra tak asing bagi pecinta drama korea. Drama Korea berjudul 'Memories of The Alhambra' yang diperankan oleh Park Shin Hye dan Hyun-bin ini mengambil latar dari keindahan Kota Granada, Spanyol yang memiliki sebuah bangunan ikonik, yaitu Istana Alhambra.
Istana ini adalah pusat kekuasaan Dinasti Bani Ahmar, yang merupakan dinasti Islam terakhir di Andalusia. Istana ini menjadi saksi bisu kejayaan dan juga kehancuran imperium Islam di Andalusia.
Pada tahun 1232 M, Sultan Muhammad bin Al-Ahmar membangun sebuah istana yang indah di sebuah bukit bernama La Sabica, di kota Granada, Spanyol. Istana ini kemudian dikenal dengan nama Alhambra. Dalam bahasa Arab, bangunan ini disebut “qa’lat al-Hamra” atau Istana Merah. Disebut demikian, karena dinding Istana ini yang berwarna kemerah-merahan.
Bangunan Alcazaba di komplek istana Alhambra  Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Bangunan Alcazaba di komplek istana Alhambra Foto: Shutter Stock
Istana Alhambra terletak di titik paling strategis kota Granada. Berada pada ketinggian kurang lebih 150 meter, dari tempat ini kita bisa terlihat pemandangan seluruh kota hingga sejauh mata memandang. Luas komplek Istana Alhambra sekitar 14 hektar, dikelilingi oleh benteng-benteng dengan pola tidak beraturan.


Catatan tertua tentang keberadaaan situs ini ditulis pada tahun 889 M oleh seorang bernama Sawwar bin Hamdun. Dalam catatan tersebut dikisahkan, bahwa ketika terjadi perang sipil di masa kekhalifahan Bani Umayyah di Cordoba, Sawwar mencari perlindungan di sebuah benteng bernama Alcazaba.
Saat ini, Alcazaba diyakini sebagai tempat pertama dan bangunan tertua yang didirikan di areal tempat dimana Alhambra kemudian berdiri. Selain itu, Alhambra merupakan satu-satunya kota peninggalan kerajaan Palatine yang masih hidup dari zaman keemasan islam dan sisa Dinasti Nasrid, kerajaan Islam terakhir di Eropa Barat.
bnagunan Mexuar di Alhambra  Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
bnagunan Mexuar di Alhambra Foto: Shutter Stock
Secara garis besar, Istana Alhambra dibagi menjadi tiga bagian, yang ketiganya dibangun pada era pemerintahan yang berbeda. Bagian pertama, atau yang tertua, dikenal dengan nama Mexuar. Sebagian catatan sejarah meragukan asal usul bangunan tersebut.
\
Bagian interior bangunan Maxuar sudah banyak ditambahkan dan dilakukan renovasi. Namun, bagian dalamnya bangunan tersebut tampak masih utuh dan mengekspresikan cita rasa arsitektur Islam. Seperti empat pilar dan kolum yang ada di dalamnya, kaligrafi dengan tulisan kufi di dinding, serta corak marmer yang juga menempel di dinding Mexuar.
Istana Comares  di Alhambra Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Istana Comares di Alhambra Foto: Shutter Stock
Bagian kedua, bernama Istana Comares (The Comares Palace). Ini merupakan bagian terpenting dari keseluruhan situs di komplek Alhambra. Karena di aula istana inilah singgasana sultan berada. Sebagian besar pembangunan istana ini dilakukan dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Yusuf I, dan diselesaikan hingga sempurna oleh putranya yang bernama Sultan Muhammad V.
Dari segi interior, terdapat dua ikon khas istana tersebut, yaitu kolam besar yang terletak di tengah-tengah istana, bernama Arrayan (Patio de Los Arrayanes), dan Menara Comares, yang merupakan menara terbesar dari keseluruhan menara yang ada di komplek Alhambra.
Menara Comares terletak di sisi utara Istana Comares. Tinggi menara ini mencapai 45 meter yang strukturnya bersambung dengan benteng.
Di dalam menara ini terdapat sebuah aula terbesar dari semua ruangan yang ada di Alhambra bernama “Embajadores”. Aula ini digunakan sebagai ruang kenegaraan untuk menerima tamu Negara.
Istana Singa di Alhambra  Foto: Shutter STock
zoom-in-whitePerbesar
Istana Singa di Alhambra Foto: Shutter STock
Bagian ketiga dari Istana Alhambra adalah Istana Singa atau Palacio de los Leones. Istana Singa ini merupakan mahkota dari keseluruhan keindahan yang ada di Alhambra.
Istana ini dibangun oleh Sultan Muhammad V sebagai rumah peristirahatnnya. Letaknya tepat bersebelahan dengan Istana Comares. Pada masa Islam berkuasa, tidak ada jalan yang menghubungkan kedua bangunan ini. Barulah ketika Katholik berkuasa, dibuat jalan yang menghubungkan keduanya.
Dinding Istana Singa dipenuhi dengan dekorasi kaligrafi bercorak Kufi. Kaligrafi tersebut berisi puisi-puisi karya tiga penyair terkenal Alhambra, yaitu Ibn al-Yayyab (1274-1349), Ibn al-Jatib (1313-1375) dan Ibn Zamrak (1333-1393).
Palacio de los Leones atau Istana Singa Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Palacio de los Leones atau Istana Singa Foto: Shutter Stock
Di antara para penyair tersebut, Ibn Zamrak dianggap sebagai penyair Alhambra yang paling populer. Semasa hidupnya, Ibn Zamrak juga sempat menjabat sebagai sekretaris kanselir kerajaan dan perdana menteri.
Ikon dari seluruhan keindahan seni di istana ini adalah kolam air mancur atau Patio de los Leones. Air mancur tersebut dihiasi dengan 12 patung singa yang melingkar. Dari mulut patung-patung singa tersebut akan keluar air yang memancur.
Istana Singa di Alhambra  Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Istana Singa di Alhambra Foto: Shutter Stock
Di samping sebagai ikon hiasan istana, air mancur dari mulut singa tersebut akan mengalir ke empat penjuru mata angin yang berujung pada teras empat ruangan utama di Istana tersebut. Yaitu The Sala de las Dos Hermanas (“Hall of the Two Sisters”) di bagian utara, The Hall of the Abencerrajes di bagian selatan, The Hall of The Kings (The Sala de los Reyes) di bagian timur, dan The Court of the Lions (Sala de los Mocdrabes) di bagian barat.
Pada tahun 1984, Alhambra ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO bersama dengan dua situs islam lainnya, seperti Albaicín (atau Albayzín) dan Taman Generalife. Istana Alhambra memiliki bentuk tidak beraturan yang dikelilingi benteng pertahanan.

Alhambra adalah tempat bersejarah sejak kekhalifahan Umayyah di Granada, Spanyol. Alhambra adalah tempat bersejarah sejak kekhalifahan Umayyah di Granada, Spanyol. Tempat ini dibangun di wilayah perbukitan di kota Granada sebagai tempat tinggal khalifah dan pemimpin. (1) Alhambra merupakan salah satu peninggalan arsitektur muslim di Eropa. (2) Pada 1238, Sultan Muhammad bin al-Ahmar dari keluarga Bani al-Ahmar mendirikan kompleks istana megah sekaligus benteng yang disebut Alhambra. Dalam bahasa Arab "al-hamra" berarti merah, jadi Alhambra berada di hamparan bukit Sabika, pengunungan Siera Nevada, dengan dinding batu bata tanah liat berwarna kemerahan.
Alhambra memiliki tiga kompleks, yaitu Istana Nasrid, Benteng Alcazaba, dan Taman Generalife. Ketiga bangunan ini sudah melewati rezim kekuasaan yang berbeda. Alcazaba adalah benteng tertua di kompleks Alhambra yang dibangun dari sisa-sisa benteng Romawi. Selain itu, Alcazaba juga sebagai pusat pergerakan militer kerajaan. Istana Nasrid merupakan rumah para sultan Nasrid dan penjabat tinggi serta kaum elite kerjaan. Setiap sudut dihiasi tulisan kaligrafi dan banyak tiang tinggi menjulang. Terakhir, Taman Generalife yang berbeda dengan dua bangunan tersebut. Taman ini menjadi tempat hiburan keluarga kerajaan untuk menikmati keindahan alam. (2)



Sejak kekuasaan Islam, Alhambra adalah tempat peninggalan sejarah Islam di bumi Spanyol di tahun 1492. Kini Alhambra telah terdaftar sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada 1984.Selain itu, Alhambra juga dikenal menjadi lukisan surga sebagai tempat manusia bersuka cita. (2)

Islam mulai masuk ke wilayah benua Eropa pada abad ke-8, ditandangi dengan penaklukkan Semenanjung Iberia. Adapun kawasan Iberia yang ditaklukkan Bani Umayyah di bawah pimpinan Walid bin Abdul Malik terdiri dari Spanyol, Portugal, Andora, Gibraltar, dan sebagian wilayah Perancis. Apabila ditelusuri, Islam tidak hanya menorehkan sejarah di Spanyol, tetapi juga mencapai masa kejayaannya. Namun, Islam kembali terusir dari Spanyol pada abad ke-15, setelah Kerajaan Granada diruntuhkan oleh pasukan Kristen.

Berikut ini sejarah perkembangan Islam di Spanyol. Sejarah masuknya Islam di Spanyol Usaha penaklukan Spanyol pertama kali dilakukan oleh Tharif bin Malik, sebagai utusan Gubernur Afrika Utara, Musa bin Nushair. Tharif bin Malik dengan empat kapalnya menyeberangi selat yang memisahkan Maroko dengan Eropa, kemudian melakukan penaklukan.

Setelah serbuan pertama Tharif bin Malik, Musa bin Nushair memerintahkan Thariq bin Ziyad ke Spanyol pada 711. Dengan membawa pasukan sekitar 7.000 orang, Panglima Thariq bin Ziyad berhasil menguasai Jabal Thariq atau Gibraltar. Kala itu, umat Islam berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Walid bin Abdul Malik (705-715).



Walid bin Abdul Malik adalah khalifah Bani Umayyah yang memerintah antara 705-715. Ia menjadi khalifah untuk menggantikan ayahnya, Abdul Malik bin Marwan, yang meninggal dunia. Masa kejayaan Bani Umayyah terwujud ketika dipimpin oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik. Pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik, Bani Umayyah mengalami stabilitas politik yang didukung oleh wazir dan gubernur yang cakap. Selain itu, Kekhalifahan Bani Umayyah mampu menguasai Transoxiana (sekarang Uzbekistan, Kazakhstan, Tajikistan dan Turkmenistan), anak benua India, dan Semenanjung Iberia di Eropa. Baca juga: Biografi Muawiyah I, Pendiri Dinasti Bani Umayyah Masa muda Walid bin Abdul Malik lahir pada 668, atau saat Bani Umayyah berada di bawah kekuasaan Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia merupakan anak dari Abdul Malik bin Marwan dan Wallada binti al-Abbas, keturunan generasi keempat dari kepala suku Arab abad ke-6, Zuhayr ibn Jadhima, dari klan Bani Abs di Ghatafan. Sejak kecil, Walid sudah mendapatkan pendidikan di Istana Umayyah dan mendalami pelatihan berperang ketika menginjak dewasa. Ia belajar bela diri, berkuda, memanah, memainkan pedang, dan belajar ilmu seni berperang. Pada 692, Walid ditugaskan untuk berperang melawan Kekaisaran Romawi Timur. Misinya berlanjut antara 695-598, di mana ia dipercaya memimpin pasukan dalam memerangi lawan kekhalifahannya.





Setelah berhasil menguasai Gibraltar, pasukan Islam dengan mudah mampu menguasai kota-kota di Spanyol, seperti Kordoba, Granada, Toledo, Sevilla, Zaragoza, hingga Navarre.

Pada abad ke-8, pasukan Islam telah menguasai seluruh Spanyol, Perancis tengah, dan sebagian Italia. Oleh karena itu, Tharif ibn Malik, Tharik ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair dianggap sebagai tokoh yang membawa Islam ke Spanyol pertama kali. Kemenangan pasukan Islam yang terbilang cepat disebabkan oleh beberapa faktor eksternal, seperti Kerajaan Visigoth di Toledo yang intoleran kepada pemeluk agama selain Kristen. Perpecahan politik dan kondisi sosial ekonomi yang timpang pada akhirnya membuat Kerajaan Visigoth mudah dikalahkan, sehingga Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam. Kejayaan Islam di Spanyol Setelah Spanyol berhasil dikuasai oleh Islam, Abdurrahman, keturunan Bani Umayyah yang melarikan diri akibat Revolusi Abbasiyah, mendirikan pemerintahan baru di Kordoba pada tahun 756.

Pemerintahan Dinasti Umayyah di Spanyol didirikan guna menandingi kekuasaan Dinasti Abbasiyah di Bagdad. Pada masa kekuasaan Umayyah inilah, Spanyol menjadi wilayah kekuasaan Islam yang sangat maju dan toleran. Pemerintahan Bani Umayyah sangat menghormati hak-hak setiap orang untuk memeluk agama kepercayaan masing-masing. Selain itu, Kordoba menjadi kota metropolitan yang maju di Eropa saat itu, karena sumbangannya di bidang ilmu pengetahuan. Menurut catatan sejarawan di Spanyol, pada masa kekuasaan Islam terdapat sekitar 700 masjid, 60.000 kastil, dan 70 perpustakaan. Kemajuan ilmu pengetahuan di Spanyol saat itu membuat banyak pelajar dan mahasiswa dari penjuru dunia untuk menuntut ilmu di Granada, Kordoba, Sevilla, dan Toledo. Baca juga: Biografi Muawiyah I, Pendiri Dinasti Bani Umayyah Selain itu, perkembangan Islam dan ilmu pengetahuan di Spanyol melahirkan banyak ilmuwan, seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Al-Khatib, Ali Ibnu Hazm, Abdur Rabbi, Al-Bakri, dan Al-Idrisi.

Salah satu keajaiban dan simbol kejayaan Islam di Spanyol adalah pembangunan Madinat al-Zahra, yaitu sebuah kompleks mewah yang terbuat dari marmer, semen, gading, dan onyx. Pembangunan Madinat al-Zahra atau Medina Azahara memerlukan waktu sekitar 40 tahun dan menghabiskan sepertiga dari pendapatan ekonomi Kordoba. Runtuhnya peradaban Islam di Spanyol Memasuki abad ke-11, peradaban Islam yang dibangun di Spanyol mulai goyah. Salah satunya disebabkan oleh serangan pasukan Kristen pimpinan Alfonso VI yang ingin merebut kembali Kota Toledo. Serangan tersebut gagal dihalau oleh penguasa Islam di Spanyol saat itu.

Meski sudah meminta bantuan Dinasti Berber di Afrika Utara, tetapi Spanyol gagal dipertahankan. Baca juga: Faktor Penyebab Runtuhnya Kekhalifahan Bani Umayyah Kota-kota yang dikuasai oleh Islam, seperti Toledo, Kordoba, Sevilla, dan Granada dikuasai kembali oleh penguasa Kristen pada akhir abad ke-15. Setelah Islam kalah Spanyol dari pasukan Kristen, umat muslim masih ada yang tinggal di Spanyol. Namun, seiring berjalannya waktu, hak-hak yang didapatkan oleh orang Islam dicabut oleh penguasa Kristen dan membuat banyak dari mereka yang memilih keluar dari Spanyol. Imigran Muslim masuk Spanyol Beberapa abad setelah kemenangan kembali umat Kristen, perkembangan Islam di Spanyol menjadi tidak jelas. Barulah pada sekitar abad ke-20, muncul gelombang imigran muslim memasuki Spanyol yang didominasi oleh orang-orang Islam Maroko.

Mereka kemudian membentuk komunitas-komunitas dan ditambah dengan kehadiran muslim dari Amerika Latin dan Eropa Timur. Perkembangan Islam di Spanyol sekarang tidak begitu signifikan. Pada 2016, terdapat sekitar 2 juta umat muslim atau sekitar 4 persen dari total populasi Spanyol. Lebih dari setengah dari umat muslim di Spanyol adalah imigran tanpa kewarganegaraan Spanyol. Kendati demikian, perkembangan tersebut tetap dibarengi dengan dibangunnya pusat keagamaan Islam di beberapa wilayah Spanyol.

Islam mulai masuk ke wilayah benua Eropa pada abad ke-8, ditandangi dengan penaklukkan Semenanjung Iberia. Adapun kawasan Iberia yang ditaklukkan Bani Umayyah di bawah pimpinan Walid bin Abdul Malik terdiri dari Spanyol, Portugal, Andora, Gibraltar, dan sebagian wilayah Perancis.

Apabila ditelusuri, Islam tidak hanya menorehkan sejarah di Spanyol, tetapi juga mencapai masa kejayaannya. Namun, Islam kembali terusir dari Spanyol pada abad ke-15, setelah Kerajaan Granada diruntuhkan oleh pasukan Kristen. Berikut ini sejarah perkembangan Islam di Spanyol. Baca juga: Reconquista, Akhir Kekuasaan Islam di Spanyol Sejarah masuknya Islam di Spanyol Usaha penaklukan Spanyol pertama kali dilakukan oleh Tharif bin Malik, sebagai utusan Gubernur Afrika Utara, Musa bin Nushair. Tharif bin Malik dengan empat kapalnya menyeberangi selat yang memisahkan Maroko dengan Eropa, kemudian melakukan penaklukan. Setelah serbuan pertama Tharif bin Malik, Musa bin Nushair memerintahkan Thariq bin Ziyad ke Spanyol pada 711.

Dengan membawa pasukan sekitar 7.000 orang, Panglima Thariq bin Ziyad berhasil menguasai Jabal Thariq atau Gibraltar. Kala itu, umat Islam berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Walid bin Abdul Malik (705-715). Setelah berhasil menguasai Gibraltar, pasukan Islam dengan mudah mampu menguasai kota-kota di Spanyol, seperti Kordoba, Granada, Toledo, Sevilla, Zaragoza, hingga Navarre.

Pada abad ke-8, pasukan Islam telah menguasai seluruh Spanyol, Perancis tengah, dan sebagian Italia. Oleh karena itu, Tharif ibn Malik, Tharik ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair dianggap sebagai tokoh yang membawa Islam ke Spanyol pertama kali. Kemenangan pasukan Islam yang terbilang cepat disebabkan oleh beberapa faktor eksternal, seperti Kerajaan Visigoth di Toledo yang intoleran kepada pemeluk agama selain Kristen. Perpecahan politik dan kondisi sosial ekonomi yang timpang pada akhirnya membuat Kerajaan Visigoth mudah dikalahkan, sehingga Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam. Kejayaan Islam di Spanyol Setelah Spanyol berhasil dikuasai oleh Islam, Abdurrahman, keturunan Bani Umayyah yang melarikan diri akibat Revolusi Abbasiyah, mendirikan pemerintahan baru di Kordoba pada tahun 756.

Pemerintahan Dinasti Umayyah di Spanyol didirikan guna menandingi kekuasaan Dinasti Abbasiyah di Bagdad. Pada masa kekuasaan Umayyah inilah, Spanyol menjadi wilayah kekuasaan Islam yang sangat maju dan toleran. Pemerintahan Bani Umayyah sangat menghormati hak-hak setiap orang untuk memeluk agama kepercayaan masing-masing. Selain itu, Kordoba menjadi kota metropolitan yang maju di Eropa saat itu, karena sumbangannya di bidang ilmu pengetahuan. Menurut catatan sejarawan di Spanyol, pada masa kekuasaan Islam terdapat sekitar 700 masjid, 60.000 kastil, dan 70 perpustakaan. Kemajuan ilmu pengetahuan di Spanyol saat itu membuat banyak pelajar dan mahasiswa dari penjuru dunia untuk menuntut ilmu di Granada, Kordoba, Sevilla, dan Toledo. Baca juga: Biografi Muawiyah I, Pendiri Dinasti Bani Umayyah Selain itu, perkembangan Islam dan ilmu pengetahuan di Spanyol melahirkan banyak ilmuwan, seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Al-Khatib, Ali Ibnu Hazm, Abdur Rabbi, Al-Bakri, dan Al-Idrisi. Salah satu keajaiban dan simbol kejayaan Islam di Spanyol adalah pembangunan Madinat al-Zahra, yaitu sebuah kompleks mewah yang terbuat dari marmer, semen, gading, dan onyx. Pembangunan Madinat al-Zahra atau Medina Azahara memerlukan waktu sekitar 40 tahun dan menghabiskan sepertiga dari pendapatan ekonomi Kordoba.

Runtuhnya peradaban Islam di Spanyol Memasuki abad ke-11, peradaban Islam yang dibangun di Spanyol mulai goyah. Salah satunya disebabkan oleh serangan pasukan Kristen pimpinan Alfonso VI yang ingin merebut kembali Kota Toledo. Serangan tersebut gagal dihalau oleh penguasa Islam di Spanyol saat itu. Meski sudah meminta bantuan Dinasti Berber di Afrika Utara, tetapi Spanyol gagal dipertahankan. Baca juga: Faktor Penyebab Runtuhnya Kekhalifahan Bani Umayyah Kota-kota yang dikuasai oleh Islam, seperti Toledo, Kordoba, Sevilla, dan Granada dikuasai kembali oleh penguasa Kristen pada akhir abad ke-15.


Setelah Islam kalah Spanyol dari pasukan Kristen, umat muslim masih ada yang tinggal di Spanyol. Namun, seiring berjalannya waktu, hak-hak yang didapatkan oleh orang Islam dicabut oleh penguasa Kristen dan membuat banyak dari mereka yang memilih keluar dari Spanyol. Imigran Muslim masuk Spanyol Beberapa abad setelah kemenangan kembali umat Kristen, perkembangan Islam di Spanyol menjadi tidak jelas. Barulah pada sekitar abad ke-20, muncul gelombang imigran muslim memasuki Spanyol yang didominasi oleh orang-orang Islam Maroko.

Mereka kemudian membentuk komunitas-komunitas dan ditambah dengan kehadiran muslim dari Amerika Latin dan Eropa Timur. Perkembangan Islam di Spanyol sekarang tidak begitu signifikan. Pada 2016, terdapat sekitar 2 juta umat muslim atau sekitar 4 persen dari total populasi Spanyol. Lebih dari setengah dari umat muslim di Spanyol adalah imigran tanpa kewarganegaraan Spanyol. Kendati demikian, perkembangan tersebut tetap dibarengi dengan dibangunnya pusat keagamaan Islam di beberapa wilayah Spanyol.
ISTAMBUL ISLAM SEBAGAI BANDINGAN ABAD INI

Hagia Sophia atau Aya Sofya merupakan tempat ibadah bersejarah yang ada di Istanbul Turki, oleh Erdogan diubah jadi Masjid setelah lama menjadi museum di Istambul .

Bangunan ini adalah salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO yang memiliki sejarah yang panjang.

Selain itu, bangunan ini juga menjadi ikon negara Turki.

Hagia Sophia ini telah ada pada abad VI dan telah melewati berbagai fase pemerintahan.

Fase pertama yakni era Bizantium. Kemudian fase kedua yakni, Dinasti Turki Usmani atau Ottoman, dan fase ketiga yakni Republik Turki.

Selain itu, Aya Sofya ini juga telah mengalami berbagai pergantian fungsi.

Bangunan ini pernah dijadikan sebagai gereja, masjid dan juga museum. (1)

Gambar selebaran ini dirilis oleh kantor pers kepresidenan Turki pada 23 Juli, menunjukkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (C), Menteri Pariwisata Mehmet Nuri Ersoy (kanan) dan Kepala Direktorat Urusan Agama Turki Ali Erbas (kiri) berpose berpose pada Hagia Masjid Sophia di Istanbul. Doa pertama di Hagia Sofiaa sejak landmark Istanbul diubah menjadi masjid akan berlangsung pada 24 Juli 2020. Pengadilan tinggi Turki membuka jalan bagi konversi dalam keputusan untuk mencabut status museum bangunan yang diberikan hampir seabad lalu. Bangunan abad keenam telah dibuka untuk semua pengunjung, terlepas dari kepercayaan mereka, sejak diresmikan sebagai museum pada tahun 1935.
Gambar selebaran ini dirilis oleh kantor pers kepresidenan Turki pada 23 Juli, menunjukkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (C), Menteri Pariwisata Mehmet Nuri Ersoy (kanan) dan Kepala Direktorat Urusan Agama Turki Ali Erbas (kiri) berpose berpose pada Hagia Masjid Sophia di Istanbul. Doa pertama di Hagia Sofiaa sejak landmark Istanbul diubah menjadi masjid akan berlangsung pada 24 Juli 2020. Pengadilan tinggi Turki membuka jalan bagi konversi dalam keputusan untuk mencabut status museum bangunan yang diberikan hampir seabad lalu. Bangunan abad keenam telah dibuka untuk semua pengunjung, terlepas dari kepercayaan mereka, sejak diresmikan sebagai museum pada tahun 1935. (Murat CETINMUHURDAR / LAYANAN PERS PRESIDEN TURKI / AFP)

Baca: Dinasti Turki Usmani

  • BANGUNAN #


Salah satu yang menakjubkan dari Hagia Sophia yakni kubah yang ada di sini ukurannya besar dan tinggi.

Lebar di bagian tengah kubahnya mencapai 30 meter dan tingginya mencapai 54 meter.

Selain itu, interior di Hagia Sophia ini dihias dengan mosaik dan fresko.

Kemudian di bagian tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni, dan dindingnya dihias dengan ukiran-ukiran.

Hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik dari bangunan ini. (2)

Orang-orang mengunjungi museum Hagia Sophia di Istanbul, pada 10 Juli 2020.
Orang-orang mengunjungi museum Hagia Sophia di Istanbul, pada 10 Juli 2020. (Ozan KOSE / AFP)

Baca: Museum Mevlana

  • SEJARAH #


Awalnya Hagia Sophia ini adalah gereja yang dibangun oleh kaisar Konstantius II di masa kekaisaran Bizantium pada tahun 360 Masehi.

Hagia Sophia ini letaknya bersebelahan dengan istana kaisar.

Pada 7 Mei 558 Masehi di masa kaisar Justianus, kubah di Hagia Sophia runtuh karena gempa.

Kemudian pada 26 Oktober 986 Masehi di masa kaisar Basil II, tempat ini kembali lagi terkena gempa.

Sehingga pada awal abad ke-14 kaisar melakukan renovasi secara besar-besaran agar tahan terhadap gempa.

Foto udara ini diambil pada 28 Juni 2020 di Istanbul menunjukkan museum Hagia Sophia di Istanbul. Pengadilan tinggi Turki dijadwalkan pada 2 Juli 2020 untuk memberikan vonis kritis pada status landmark landmark Istanbul yang menjadi museum masjid yang berubah menjadi masjid, Hagia Sophia, sebuah keputusan yang dapat mengobarkan ketegangan terutama dengan negara tetangga Yunani. Gedung abad keenam - sebuah magnet bagi para wisatawan di seluruh dunia dengan arsitekturnya yang menakjubkan - telah berfungsi sebagai museum sekuler sejak tahun 1930-an yang menjadikannya terbuka bagi umat beragama dari semua agama.
Foto udara ini diambil pada 28 Juni 2020 di Istanbul menunjukkan museum Hagia Sophia di Istanbul. Pengadilan tinggi Turki dijadwalkan pada 2 Juli 2020 untuk memberikan vonis kritis pada status landmark landmark Istanbul yang menjadi museum masjid yang berubah menjadi masjid, Hagia Sophia, sebuah keputusan yang dapat mengobarkan ketegangan terutama dengan negara tetangga Yunani. Gedung abad keenam - sebuah magnet bagi para wisatawan di seluruh dunia dengan arsitekturnya yang menakjubkan - telah berfungsi sebagai museum sekuler sejak tahun 1930-an yang menjadikannya terbuka bagi umat beragama dari semua agama. (Ozan KOSE / AFP)

Baca: Museum House of Sampoerna

Kemudian pada tahun 1453 Masehi terjadi peristiwa yang besar yakni perang antara Dinasti Turki Usmani dengan Bizantium.

Pasukan Turki Usmani yang dipimpin oleh Muhammad Al Fatih atau Mehmed II itu berhasil menaklukan Bizantium sehingga Konstantinopel jatuh ke tangannya.

Setelah Bizantium runtuh, Mehmed II kemudian mengubah nama Hagia Sophia menjadi Aya Sofya serta mengalihfungsikannya sebagai masjid.

Sejak saat itulah Hagia Sophia beralih fungsi sebagai tempat ibadah umat Islam.

Pada 1922 Masehi, Dinasti Turki Usmani runtuh dan digantikan oleh pemerintahan berbentuk Republik dengan nama Republik Turki.

Hingga pada tahun 1937 Masehi di masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk, Hagia Sophia diubah menjadi museum.

Dan pada 10 Juli 2020 Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengubah kembali Hagia Sophia menjadi masjid sebagai tempat ibadah umat Islam. (3) (4)

PARA ILMUWAN MUSLIM


Ibnu Sina

Islam telah melahirkan banyak golongan sarjana dan ilmuwan yang cukup hebat dalam berbagai bidang, seperti falsafah, sains, politik, agama, pengobatan, dan masih banyak lainnya. Salah satu ciri yang dapat diperhatikan dari para tokoh ilmuwan Islam adalah mereka tidak sekadar menguasai satu ilmu, tetapi beberapa bidang ilmu secara bersamaan. Ibnu Sina misalnya, yang sangat dikenal dalam bidang sains dan pengobatan. Namun selain itu, Ibnu Sina juga memiliki kemahiran tinggi dalam bidang agama, falsafah, dan sebagainya. 


Berikut ini daftar tokoh ilmuwan muslim dengan bidang keahliannya yang terkenal: Al-Farabi Abu Nashr Muhammad Al-Farabi lahir pada 870 M di Farab, sebuah kota di Turki tengah.



 Al-Farabi adalah seorang jenius yang menguasai 89 bahasa dan guru besar Muslim dalam bidang fiqih, filsafat, sains, kedokteran, musik, dan puisi. Al-Farabi pernah tinggal di Baghdad selama 40 tahun untuk memelajari bahasa Arab dan Yunani, kemudian memelajari filsafat dan logika Aristoteles. Apabila Aristoteles dikenal sebagai guru pertama, maka Al-Farabi dijuluki sebagai guru kedua dan Bapak Logika Islam. Sepanjang hidupnya, Al-Farabi menulis lebih dari seratus buku berbahasa Arab dalam bidang filsafat, sains, kedokteran, musik, dan lain-lain.


Beberapa karyanya yang terkenal adalah At-Ta'lim Ats-Tsani, Al-Musiqi Al-Kabir, Ihsha'u Al-Iqa, dan Ihsha'u Al-Ulum wa At-Ta'rif bi Aghradhiha. Baca juga: Kekhalifahan Abbasiyah: Sejarah, Masa Keemasan, dan Akhir Kekuasaan Al-Khawarizmi Al-Khawarizmi atau yang mempunyai nama asli Muhammad Ibn Musa al-Khawarizmi dikenal sebagai Bapak Aljabar Dunia. Ia menciptakan pemakaian secans dan tangens dalam trigonometri dan astronomi. 


Al Khawarizmi

Selain itu, Al-Khawarizmi juga menciptakan sistem penomoran yang sangat penting hingga digunakan pada zaman sekarang. Matematika adalah ilmu yang telah kita pelajari sejak berada di bangku sekolah dasar, bahkan banyak anak yang mengenalnya di usia lebih muda. Di dalam pelajaran matematika, terdapat cabang ilmu yang sudah tak asing lagi didengar yakni aljabar. Dilansir dari Cue Math, Selasa (10/5/2022) teori bilangan, geometri, dan analisisnya disatukan untuk menjadi bagian dari matematika, dikenal sebagai aljabar. Aljabar yang dalam bahasa Inggris disebut Algebra adalah ilmu yang mempelajari simbol-simbol matematika, serta aturan untuk menghitungnya. 

 Lantas, sebenarnya siapa penemu aljabar? Penemu aljabar adalah seorang ahli matematika Persia bernama Muhammad bin Musa Khawarizmi, yang dikenal dengan Al-Khawarizmi. Dalam catatan sejarah manusia, Al-Khawarizmi adalah tokoh penting yang mengembangkan ilmu matematika, dan dijuluki sebagai Bapak Aljabar. Selain menemukan aljabar, ia juga merupakan penemu angka nol (0). Al-Khawarizmi adalah ilmuwan Islam, yang lahir di sebuah kota kecil bernama Khawarizm di Uzbekistan sekitar tahun 780 Masehi. Sejak kecil, dia tinggal di Selatan kota Bagdad. 

Di tempat inilah, Al-Khawarizmi menjadi anggota Bayt Al-Hikmah, yakni lembaga penerjemah, pusat penelitian ilmu pengetahuan, dan perpustakaan besar yang didirikan Harun Al-Rasyid. Sepanjang hidupnya, Al-Khawarizmi mengabdi dalam bidang pendidikan maupun riset ilmiah. Hal itu membuatnya mampu untuk menguasai berbagai bahasa, bahkan menerjemahkan buku. 

Berkat kecintaannya terhadap pendidikan, dia berhasil menerbitkan karya buku paling terkenal dalam dunia pendidikan. Seperti dilansir dari Interactive Mathematics, Selasa (10/5/2022) pada 825 Masehi dia menuliskan buku berjudul "Hisab Al-jabrwal-muqabala", artinya pemulihan bagian buku yang rusak. Melalui buku tersebut, para ilmuwan hingga saat ini menggunakan kata aljabar dalam matematika. 

Tujuan dari aljabar adalah untuk memecahkan persamaan linear, atau kuadrat dengan menghilangkan negatif menggunakan proses penyeimbangan kedua sisi persamaan. Meluaskan penggunaan angka Hindu-Arab Al-Khawarizmi turut membantu dalam meluaskan penggunaan angka Hindu-Arab seperti 1, 2, 3, dan seterusnya yang menggantikan angka Romawi. Pada saat itu, angka Romawi I, II, III, IV dan seterusnya masih umum digunakan di seluruh Eropa dan Timur Tengah karena pengaruh Kekaisaran Romawi..

Sistem perhitungan Hindu-Arab ini dinilai jauh lebih mudah digunakan ketika melakukan operasi matematika, karena merupakan sistem basis-10. sehingga, orang mudah untuk menghitung, bahkan hingga ke angka yang lebih tinggi. 

Ahli matematika Islam ini juga berjasa dalam mendorong penggunaan angka nol, misalnya 0 pada angka 105 menunjukkan tidak ada kelipatan 10 dalam angka ini. Tak hanya sampai di situ, Al-Khawarizmi juga berperan dalam pengembangan tabel sinus, cosinus, dan trigonometri. Selain menjadi ahli matematika, ia pun ahli dalam bidang ilmu astronomi, musik, filsafat, geografi, hingga kimia. Kecerdasan Al-Khawarizmi membuat banyak ilmuwan barat, salah satunya Copernicus terpengaruh pada teori yang ditemukannya. Sekitar tahun 850 Masehi, tepat di penghujung usianya, Al-Khawarizmi berhasil mewariskan ilmu yang bermanfaat untuk dunia. Dari nama al-Khawarizmi muncul kata algoritma, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari perhitungan matematika.


Ibnu Haitham Ibnu Haitham adalah Bapak Optik Modern yang mempunyai nama asli Abu Ali Muhammad Al-Hassan Ibnu Al-Haitham. Dalam kalangan cerdik pandai di Barat, tokoh ilmuwan Islam yang lahir pada 965 M ini dikenal dengan nama Alhazen. Tulisannya mengenai pengobatan mata telah menjadi rujukan penting yang masih dipelajari hingga saat ini. Ibnu Haitham banyak melakukan penelitian mengenai cahaya dan telah memberi ilham kepada ahli sains Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler, dalam menciptakan mikroskop serta teleskop. Selain itu, Ibnu Haitham telah menemukan prinsip kesatuan udara sebelum Trricella dan daya gravitasi sebelum Issaac Newton. Baca juga: Kekhalifahan Bani Umayyah: Masa Keemasan dan Akhir Kekuasaan Ibnu Khaldun Ibnu Khaldun adalah ilmuwan Islam yang dikenal sebagai sejarawan dan Bapak Sosiologi.


Ibnu KHaldun

Selain itu, ia dikenal sebagai Bapak Ekonomi Islam karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh dikemukakan sebelum Adam Smith dan David Ricardo. Ibnu Sina Ibnu Sina atau dikenal sebagai Avicenna adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan dokter yang lahir di Persia pada 980 M. Sebagai salah satu ilmuwan islam bidang kedokteran, ia juga disebut-sebut sebagai Bapak Pengobatan Modern. Karyanya yang paling terkenal adalah Qanun fi Thib, yang menjadi rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad. Imam Al Ghazali Imam Al Ghazali adalah tokoh ilmuwan muslim terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Semasa hidupnya, sosok yang sering dipanggil sebagai Algazel ini sangat aktif menulis.


 Karya-karyanya dalam masalah ushuluddin, aqidah, fikih, filsafat, manthiq, dan tasawuf sangat banyak. Beberapa di antaranya adalah Arba'in Fi Ushuliddin, Al Iqtishad Fil I'tiqad, Ma'ariful Aqliyah, dan lain-lain. Baca juga: Masjid-masjid Peninggalan Kerajaan Islam dan Ciri-cirinya Al-Kindi Al-Kindi memiliki kontribusi besar dalam bidang filsafat, oleh karenanya ia juga dijuluki sebagai filsuf Arab. Tidak hanya itu, Al-Kindi juga produktif menulis banyak karya dari beberapa disiplin ilmu, seperti metafisika, etika, logika, psikologi, farmakologi, matematika, dan lain sebagainya.


Al Kindi

Beberapa bukunya yang terkenal adalah Kitab Al-Kindi ila Al-Mu’tashim Billah Fi Al-Falsafah Al-Ula, Kitab Al-Falsafah Ad-Dakhilat wa Al-Masa’il Al-Manthiqiyyah wa Al-Muqtashah wa Ma Fawqa Al-Thabi’iyyah, dan Kitab fi An-Nahu La Tanalu Al-Falsafah Illa Bi ‘ilm Al-Riyadhiyyah. Jabir Al-Hayyan Tokoh Islam dunia yang menginspirasi selanjutnya adalah Jabir Al-Hayyan, yang diakui sebagai Bapak Kimia Bangsa Arab. Jabir Al-Hayyan diketahui mengembangkan dua operasi utama kimia, yaitu kalnikasi dan reduksi kimia. Selain itu, ia juga memperbaiki metode penguapan, sublimasi, peleburan, dan kristalisasi. 

 Ibnu al-Nafis Ibnu al-Nafis lahir di Damaskus, Suriah, pada 1213 M. Ia diketahui sebagai orang pertama yang secara akurat mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh manusia. Ilmuwan muslim berjuluk Bapak Fisiologi Sirkulasi ini juga menjadi orang pertama yang mengungkapkan teori pembuluh darah kapiler. 


Al Zahrawi

Al Zahrawi Al-Zahrawi adalah seorang fisikawan dan ahli bedah yang lahir pada 936 M di Andalusia. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Al-Tasrif, yang berisi kumpulan praktik kedokteran, termasuk di antaranya tentang gigi dan kelahiran anak. Atas perannya dalam penemuan jarum suntik, forcep, jarum bedah, pisau bedah, Al-Zahrawi dijuluki sebagai Bapak Ahli Bedah.  


×
Berita Terbaru Update
close