Film dokumenter Dirty Vote karya sutradara Dandhy Laksono mendapatkan sambutan luar biasa dari publik.
Namun, ada beberapa pihak yang menyoroti adanya gerakan salam 4 jari yang muncul di credit title film Dirty Vote sehingga memunculkan asumsi liar.
Sutradara Dandhy Laksono pun akhirnya buka suara memberikan penjelasan terkait pencantuman gerakan salam 4 jari di filmnya tersebut.
Dandhy Laksono menjelaskan bahwa kontestan Pilpres 2024 hanya berjumlah 3 pasangan, tidak ada nomor 4.
"Sederhana saja, pertanyaannya 4 jari itu kontestan bukan, ada di surat suara gak. Partisan itu kan ada surat suara ada tiga, partisi kan, empat itu dimana gitu," jelasnya.
Dandhy menyatakan bahwa gerakan 4 jari tersebut terbentuk karena imajinasi politik.
"Itu kan imajinasi politik. The realnya gak ada jari empat di surat suara itu gak ada. Mau nyoblos empat dimana sih enggak mungkin dalam sistem," imbuhnya.
"Nah hari ini kan yang lu sebut 4, 1 ditambah 3 bisa saja begitu rumusnya. 4 kan bisa saja nomor urut," ucapnya.
Dalam film Dirty Vote dijelaskan adanya konteks yang terus digaungkan untuk membuat narasi satu putaran.
"Tapi dalam film ini dijelaskan konteksnya bahwa kenapa narasi satu putaran itu digaung-gaungkan terus.
Menurutnya jika adanya kemungkinan untuk dilanjutkannya putaran kedua, akan ada potensi koalisi.
Lebih lanjut, hal tersebut merupakan bagian dari analisis politik yang kerap ia tunjukkan di filmnya.
"Karena memang kalau terjadi dua putaran ada potensi koalisi. Dan itu analisis politik yang biasa kita tunjukkan," ungkapnya.
Dandhy juga membantah bahwa ia kerap membuat film jelang pemilu. Faktanya, ia sering membuat film di luar agenda tersebut.
Dirinya pun mencontohkan beberapa filmnya yang dirilis di luar hajatan pemilu seperti Sarmin vs Semen dan Kala Benoa. (*)
Sumber: kilat
Foto: Muncul salam 4 jari di Dirty Vote

