Mengulangi suatu pengalaman yang memberikan rasa nikmat memang sifat manusia dan setan ada di mana-mana.. Beberapa kali Hendrik nelepon mau datang, telah berhasil Aku tolak. Untung Aku punya alasan kuat, Ayah atau Ibu sedang ada di rumah. Tapi pembicaraan teleponnya pagi ini membuatku tak kuasa untuk menolak.
"Aku kangen Sally, pengin ke situ."
"Ada Ibu Mas, lagian baby siter ngasuh di rumah."
"Kita jalan-jalan ke luar aja yuk."
"Kemana Mas?"
"Ya .. kemana ajalah. Aku jemput ya."
"enggak enak Mas, ada Ibu."
"Sally, Aku mohon kita bisa ketemu. Mungkin ini pertemuan untuk perpisahan."
"Kenapa gitu?"
"Minggu depan Aku pindah tugas ke Kaltim," jelasnya. Ke Kaltim? Oh, jauh amat. Tiba-tiba Aku merasa kehilangan. Baiklah Aku mengalah.
"Oke Mas, kita ketemu di Mall aja," kataku menyebut nama shopping center, beberapa menit dari rumah dengan kendaraan umum.
"Makasih, sayangku."
Satu jam kemudian Aku sudah di dalam mobil Hendrik yang dipacu keluar Jakarta.
"Aku ingin pertemuan kita ini punya kesan yang mendalam," katanya.
"Ke mana kita Mas."
"Ke tempat yang berkesan."
"Apa itu."
"Nanti kamu tahu." Kulirik jam tangan, jam sembilan lewat sepuluh.
"Jangan jauh-jauh Mas, waktuku terbatas." Saat makan siang Aku harus sudah ada di rumah. Mas Jimmy terkadang pulang untuk makan siang.
"enggak kok, bentar lagi sampai."
Mobil masuk ke pintu gerbang yang dijaga Satpam, lalu berjalan pelan menyusuri bangunan-bangunan semacam bungalow. Seorang lelaki setengah berlari memandu mobil sampai ke pintu garasi. Hendrik membawaku ke suatu motel tempat pasangan selingkuh berkencan. Ada rasa tak enak sebenarnya. Tapi karena menyadari bahwa hari ini adalah pertemuan terakhir dengan mantan kekasihku ini, Aku bisa menerima perlakuannya ini.
Di ujung garasi ada tangga ke atas dan berujung pada pintu. Melewati pintu ini kita masuk pada ruang dengan sofa set, ada TV besar, mini bar, dan kulkas. Lelaki tadi yang rupanya room-boy menyodorkan kuitansi dan langsung berlalu setelah menerima uang dari Hendrik. Aku duduk di sofa.
"Udah sering ya bawa cewe ke sini."
"Eemm .. sering sih enggak, sesekali. Maklumlah .."
"Jadi saya ini Mas anggap seperti mereka itu?"
"Eit, jangan begitu dong, Yang. Ini cuma masalah tempat."
"Ya, justru itu kenapa enggak di rumah Mas aja?"
"Adik Mas yang dari Jawa sekarang tinggal di rumah. enggak enak."
Meskipun masih ada rasa tak enak, kenyataannya Aku tak menolak ketika Hendrik mulai menciumiku di sofa. Lalu menelanjangiku sebelum dia juga berbugil. Lalu step berikutnya seperti yang sudah-sudah. Hendrik merebahkanku di sofa.
Auuwwww…. kok dimasukin mas?
Baca selengkapnnya di Sini Gairah Liar Mantanku Kenikmatanku

