Mengenal PSHT, Perguruan Pencak Silat yang Terlibat Bentrok di Madiun, Bukan Kaleng-kaleng dan Tersohor -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mengenal PSHT, Perguruan Pencak Silat yang Terlibat Bentrok di Madiun, Bukan Kaleng-kaleng dan Tersohor

Selasa, 24 Mei 2022 | Mei 24, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-05-24T06:05:48Z

WANHEARTNEWS.COM - Bentrokan yang terjadi antara dua perguruan pencak silat di Madiun, di samping Terminal Purboyo, membuat warga gempar.

Warga yang melihat pertempuran dua kubu pencak silat itu tampak banyak yang merasa ngeri melihatnya.

Bentrokan yang terjadi antara dua kubu pencak silat itu terjadi setelah mereka menghadiri acara halal bihalal di internal perguruan pencak silat di Kecamatan Kartoharjo. 
 
Setelah acara halal bihalal itu, kemudian ratusan orang kembali ke daerah asal, masing-masing dengan mengendarai sepeda motor. Namun dalam perjalanan pulang, mereka terlibat bentrok dan saling lempar batu dengan kelompok lain.


Aksi bentrok antar dua perguruan pencak silat inipun juga dibenarkan oleh Kapolsek Kartoharjo Kompol Lilik Sulastri. Dirinya memastikan kejadian tersebut hanya insiden kecil dan sudah langsung kondusif. 
 
"Salah satu perguruan tersebut usai menghadiri acara halal bihalal dari rayon Rejomulyo dari PSHT (PSHT Terate dengan PSHW Winongo), jadi itu tadi biasa cuman ada massa dari anak-anak, kebetulan lewat di wilayah pintu masuk Desa wonodadi dan kelurahan Patihan kecamatan Manguharjo," Kata Lilik setelah melakukan pengamanan bentrok, Senin (23/5/2022).

Nah, Usut demi usut, Tvonenews.com pun menelusuri profil dari kelompok pencak silat di Madiun yang terlibat bentrok itu.

Ya, organisasi pencak silat tersebut bernama Persatuan Setia Hati Terate (PSHT).

Organisasi PSHT bukanlah kelompok pencak silat biasa atau 'kaleng-kaleng'. Reputasi mereka benar-benar sudah populer dan sangat dihormati di Indonesia.

Ya, PSHT ternyata merupakan organisasi pencak silat yang tersohor di Indonesia.

Organisasi PSHT diinisiasi oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada tahun 1922. Kemudian disepakati namanya menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) pada kongres pertamanya di Madiun pada tahun 1948.

Sejarah PSHT

Pada tahun 1922, Ki Hadjar Hardjo Oetomo, salah satu pengikut aliran pencak silat Setia Hati yang berasal dari Pilangbango, meminta izin kepada Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo untuk mendirikan pusat pendidikan pencak silat dengan aliran Setia Hati. 

Niat itu disebutkan dilatarbelakangi keadaan saat itu di mana ilmu pencak silat hanya diajarkan kepada mereka yang memiliki status bangsawan seperti bupati, wedana atau masyarkat bangsawan yang memiliki gelar raden, sehingga Ki Hardjo Oetomo berniat agar ilmu pencak silat ini bisa dipelajari oleh rakyat jelata dan pejuang perintis kemerdekaan.

Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo setuju atas ide ini asalkan pusat pendidikan nanti harus memiliki nama yang berbeda. Akhirnya didirikanlah Persaudaraan Setia Hati Pemuda Sport Club (SH PSC).

Pada 1942, salah seorang murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo, yakni Soeratno Sorengpati mengganti nama SH PSC menjadi Setia Hati Terate. Perubahan nama tersebut lalu disepakati saat kongres pertama yang diadakan di rumah Ki Hadjar Hardjo Oetomo di Madiun pada tahun 1948.

Saat itu, PSHT pun mengubah diri dari sistem yang berbentuk perguruan menjadi sistem berbentuk persaudaraan untuk mendukung konsep demokratisasi organisasi, namun konsepsi dan tradisi sistem perguruan masih tetap dilanjutkan.

Tak hanya itu, semakin berkembangnya PSHT, Mas Irsjad, salah satu murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo menjadi ketua dan memperkenalkan 90 senam dasar, jurus 1–4, jurus belati, dan jurus toya.


Adapun jurus-jurus perguruan juga diperbarui oleh Mas Imam Koesoepangat untuk membedakan diri dari jurus-jurus Djojo Gendilo Tjipto Muljo milik SH Winongo atau sekarang di kenal dengan Setia Hati Panti.

Tingkatan di PSHT

Seperti pada organisasi pada umumnya, PSHT pun sebagai organisasi pencak silat mempunyai strukur atau tingkatan para atletnya. Berikut ini tingkatannya.

1. Siswa Polos

Siswa polos atau siswa hitam adalah tingkatan awal pada PSHT, yang ditandai dengan sabuk berwarna hitam. Warna hitam melambangkan kebutaan karena siswa belum mengetahui dengan baik apa itu PSHT.

Pada tingkatan ini siswa diajarkan pengenalan tentang Setia Hati dan Setia Hati Terate, pengenalan gerak, gerakan, beberapa senam dan jurus. Gerak dan gerakan yang diajarkan termasuk senam untuk tangan dan kaki. Sedangkan jurus yang diajarkan pada tingkatan ini adalah 1 hingga 2 pukulan, tendangan dan pertahanan, 30 senam dan 5 sampai 6 jurus.

2. Siswa Jambon

Siswa Polos yang lulus ujian kenaikan tingkat akan menjadi Siswa Jambon yang ditandai sabuk berwarna merah jambu (merah muda). Warna merah muda melambangkan keragu-raguan. 

Jambon juga berarti sifat matahari yang terbit atau sifat matahari yang terbenam, yaitu sifat yang mulai mengarah ke suatu kepastian tetapi masih belum sempurna. Pada tingkatan ini siswa diajarkan pemahaman dan pengamalan Ajaran Setia Hati. 

Dan penambahan kemampuan gerak dan gerakan menjadi 3 hingga 4 pukulan, tendangan dan pertahanan, 45 senam dan 13 jurus.

3. Siswa Ijo

Siswa Jambon yang lulus ujian kenaikan tingkat akan menjadi Siswa Ijo yang ditandai sabuk berwarna hijau. Warna hijau melambangkan keadilan dan keteguhan dalam menjalani sesuatu.

Pada tingkatan ini siswa diajarkan penambahan kemampuan gerak dan gerakan menjadi 5 hingga 6 pukulan, tendangan dan pertahanan, 60 senam dan 15 hingga 20 jurus.

4. Siswa Putih

Sesuai namanya, Siswa Putih menggunakan sabuk berwarna putih. Dalam tingkatan ini semua pukulan, tendangan, teknik pertahanan, senam dan jurus sudah diajarkan kecuali jurus ke-36.

Warna putih melambangkan kesucian sehingga siswa dalam tingkatan ini diharapkan telah mengerti arah yang sebenarnya dan telah mengetahui perbedaan antara benar dan salah, bertindak berdasarkan prinsip kebenaran, dan bersikap tenang. Siswa pada tingkatan ini sudah siap untuk menjalani pengesahan sebagai pendekar/warga PSHT.

5. Warga

Warga atau Pendekar PSHT adalah mereka yang sudah menjalani ujian dan pengesahan. Warga PSHT dibagi menjadi 3 tingkat, yaitu Warga tingkat I (satria), tingkat II (ngalindra), dan tingkat III (pandhita).

 Warga tingkat I menggunakan sabuk berwarna putih dari kain mori. Warga tingkat dua dan tiga menggunakan selendang. 

Sumber: tvOne
×
Berita Terbaru Update
close