Banjir Rob Semarang, Pakar: Peristiwa Satu Desa Hilang Jangan Terjadi Lagi -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Banjir Rob Semarang, Pakar: Peristiwa Satu Desa Hilang Jangan Terjadi Lagi

Jumat, 27 Mei 2022 | Mei 27, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-05-27T12:56:17Z

WANHEARTNEWS.COM - Pakar geomorfologi pesisir dan laut Universitas Gadjah Mada (UGM) Bachtiar W. Mutaqin, menilai peristiwa banjir rob besar terjadi di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada Senin (23/5) kemarin, terjadi karena global warming berupa naiknya permukaan air laut, dan material tanah di utara Jawa yang belum solid.

Menurut Bachtiar, kondisi ini juga sudah sejak lama kawasan Banten hingga Banyuwangi dikenal sebagai kawasan rawan terjadi rob.

“Belum solid, ditambah banyaknya permukiman. Tidak hanya permukiman pribadi atau perorangan tetapi juga industri sehingga dimungkinkan penggunaan air tanah. Akibatnya banyak permasalahan, cukup kompleks mulai dari kenaikan muka laut, kemudian material tanahnya yang alluvial umurnya masih muda, juga terkait dengan penggunaan lahan," paparnya dalam siaran tertulis, Rabu (25/5/2022).

Peristiwa rob di Semarang sudah memiliki riwayat lama

Dosen Fakultas Geografi UGM ini menyatakan, peristiwa rob di Semarang sudah memiliki riwayat lama. Riwayat rob sangat sering dan kejadian kemarin karena bersamaan dengan puncak-puncaknya pasang, di mana posisi bumi dan bulan begitu dekat.

“Pasangnya cukup tinggi, tanggulnya jebol ya akhirnya kawasan di pesisir Semarang terendam. Sebenarnya fenomenanya sudah dimitigasi oleh pemerintah, tapi karena muka laut memang cukup tinggi, dan ada bangunan yang jebol akibatnya banyak yang terendam," terangnya.

Penurunan tanah diperparah banyaknya bangunan industri

Dia menjelaskan, material tanah di utara Jawa sebenarnya berasal dari endapan atau sedimentasi proses dari sungai sehingga material sedimen tersebut diukur dari skala geologi masih muda sehingga masih labil, belum solid atau belum kompak.

Sementara di atasnya berdiri banyak bangunan sehingga semakin memperberat. Belum lagi penggunaan air tanah yang berakibat penurunan muka tanah.

Dalam catatan penurunan muka tanah (land subsidence) di Semarang sekitar 19 centimeter per tahun. Untuk rob 40 sampai 60 centimeter dan pernah mencapai 1 meter pada 2013.

“Padahal stasiun pasang surut sudah ada, ada tanggul laut, tapi yang kemarin fenomena pasangnya memang cukup tinggi dibandingkan dengan biasanya. Mungkin karena masih dalam kondisi ekstrem untuk cuacanya, bahkan ini diperkirakan sampai bulan Juni untuk puncak pasangnya karenanya memang perlu perhatian khusus seperti apa untuk upaya mitigasinya nanti," ucapnya.

Kegiatan mitigasi sudah dilakukan

Bachtiar menegaskan, secara umum pemerintah sudah paham apa yang terjadi di Semarang dan wilayah lainnya di pantai utara Jawa yang dikenal sebagai kawasan rawan terkena rob.

Bahkan beberapa kegiatan mitigasi sudah dilakukan, misalnya kegiatan pemerintah pusat bersama Pemkab Pekalongan dengan membuat sumur pompa, pembangunan tanggul dan lain-lain.

Pengaturan tata ruang harus dilakukan

Bachtiar berharap, jika terjadi penurunan muka tanah maka yang perlu mendapat perhatian adalah tata ruang. Menurutnya perlu diatur untuk penggunaan lahannya, khususnya yang berada di wilayah pesisir agar tidak terlalu masif.

Demikian pula yang menyangkut industri skala besar beserta penggunaan air tanah yang biasanya kapasitas pemakaiannya jauh lebih besar dibanding pemakaian masyarakat biasa. Hal-hal semacam ini perlu diatur secara khusus.

“Kita berharap ada semacam moratorium atau peraturan yang melarang penggunaan air tanah yang di skala industri atau seperti apa itu perlu dilakukan juga," ungkapnya.

Peristiwa di Demak mengakibatkan satu desa hilang karena rob

Bachtiar perlu menyampaikan ini agar peristiwa Demak beberapa waktu lalu tidak terulang kembali. Peristiwa di Demak mengakibatkan satu desa hilang karena rob dan terjadi penurunan muka tanah.

Ia menjelaskan masyarakat yang tinggal di pesisir sesungguhnya sudah paham akan risiko yang dihadapi. Tetapi karena keterbatasan ekonomi menjadikan mereka tidak memiliki opsi atau pilihan lain.

"Kondisi tersebut menjadikan mereka mau tidak mau harus beradaptasi. Istilahnya day by day adaptation, artinya jika hari ini tinggi rob mencapai 30 centimeter maka mereka harus meninggikan posisi barang-barang vital di rumah seperti tempat tidur, perangkat elektronik dan lain-lain lebih tinggi agar tidak terendam," ujarnya.

Sumber: idntimes

×
Berita Terbaru Update
close